BBM mahal, petani Boyolali sedot air dengan gas elpiji
By : Nanadiana
AGEN Poker -Musim kemarau yang panjang membuat para petani di Desa
Ngargorejo, Kecamatan Ngempak, Boyolali, Jawa Tengah, menderita. Tak
hanya kekeringan, sawah mereka juga terancam gagal panen, jika tak
segera dialiri air.
Hal ini diperparah dengan mahalnya bahan bakar minyak yang membuat mereka harus memutar otak untuk mendapatkan air. Hampir seluruh sumber air sudah kering sejak tiga bulan terakhir.
Seperti tahun sebelumnya, saat musim kering mereka memanfaatkan sumur pantek atau sumur bor untuk mengairi sawahnya. Namun jika sebelumnya mereka menggunakan bahan bakar bensin atau solar, kali ini para petani memodifikasi mesin pompa agar bisa menggunakan bahan bakar gas elpiji tabung ukuran 3 kilogram .
"Kami memodifikasi mesin pompa air dengan tabung gas elpiji 3 kilogram. Selain lebih hemat, hasilnya juga lebih maksimal," ujar Tarmanto (65), salah satu petani, saat ditemui di sawahnya, Selasa (8/9).
Menurut dia, untuk membuat sumur pantek biasanya menghabiskan biaya sekitar Rp 1 juta dengan kedalaman sekitar 20 meter. Selama ini, untuk mengangkat air dari kedalaman 20 meter itu menggunakan mesin pompa air seharga Rp 3 juta dengan bahan bakar bensin. Biaya tersebut belum termasuk bahan bakar bensin sebanyak 8 liter untuk menyedot air selama 12 jam.
"Bisa dihitung, untuk bahan bakar saja habisnya sekitar Rp 68 ribu karena kami beli bensin eceran dengan harga Rp 8.500 per liter," keluhnya.
Selama 12 jam beroperasi, lanjut dia, debit air yang dihasilkan dari sumur panteknya ternyata hanya bisa mengairi sekitar setengah hektare atau 2.500 meter persegi atau seperempat hektare. Luasan tersebut tidak sebanding dengan biaya pembuatan pompa dan biaya bensin. Melihat kenyataan tersebut, akhirnya ia berpindah menggunakan bahan bakar elpiji.
"Dengan elpiji biayanya lebih hemat, dan hasilnya lebih efisien. Sebab, untuk menyedot air selama 12 jam non stop petani hanya membutuhkan dua tabung elpiji ukuran 3 kilogram dengan harga Rp 17 ribu per tabung. Selisihnya hampir dua kali lipat. Kalau dengan bensin biayanya Rp 68 ribu, sementara dengan elpiji hanya Rp Rp 34 ribu," jelasnya.
Rasmadi (34) petani lainnya membenarkan hal tersebut. Ia menyebut, sejak enam bulan terakhir, petani di desanya memilih menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar pompa sumur pantek.
"Untuk modifikasinya, petani hanya tinggal membuat lobang untuk menyalurkan aliran gas elpiji ke karburator dengan menggunakan selang. Agar awet ya menggunakan selang selang regulator. Sekarang hampir semua petani di sini pakai gas elpiji, ada seratusan petani," pungkasnya.

0 comments:
Post a Comment